Menarik adalah ketika suatu perkataan bisa berdampak besar terhadap hidup seseorang.
Ga percaya?
Coba deh kita berpikir sejenak, kira-kira kenapa sih orang-orang pada rela mengantri, menyiapkan waktu, dan mengeluarkan uang untuk seminar motivasi?
Kenapa di jejaring sosial macam twitter, path, facebook, tumblr, dkk sangat mudah kita temukan orang-orang mengepost kalimat-kalimat bijak hingga curhatan ampas?
Dan, segala kata-kata yang kita dengar dan baca berdampak besar terhadap hidup kita?
Pagi ini, saya terbangun dengan perasaan yang kalut. Rasanya hati ini disayat-sayat. Hal ini disebabkan karena saya mengingat perkataan yang saya terima beberapa saat lalu.
Kata-kata yang setiap pasangan kekasih tidak ingin dengar. Apapun itu. Bayangkan dengan imajinasi-mu.
Kembali ke pembicaraan kita. Yah, kata-kata itu bagai pisau yang menikam berulang-ulang.
Lantas, saya pun mulai berpikir "Mengapa saya harus membawa beban perkataan itu dalam kehidupan saya?" dan "Mengapa perkataan-perkataan itu dapat membuat hidup saya tidak bahagia?".
Karena sebagian orang mengucapkan perkataan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Dan, sebagian orang lagi secara khilaf menyebutkan perkatannya.
Mengapa kita, sang pendengar, membiarkan perkataan itu hidup dan menggerogoti tubuh kita dari dalam?
Apa hak kata-kata itu?
Pada akhirnya, saya menemukan pencerahan bahwa sesungguhnya ada hal yang lebih penting dari perkataan-perkataan yang kita dengar. Hal itu adalah diri kita sendiri. Kita filternya. Kita bisa membiarkan perkataan itu masuk dan hidup di dalam diri kita. Seperti membiarkan kata-kata bijak nan memberi semangat mendorong kita untuk maju. Sama halnya seperti kita membiarkan perkataan negatif menghancurkan diri kita dari dalam secara perlahan.
Komentar, perkataan, tanggapan, cacian, dan apapun bentuk perkataan itu tidak akan pernah berenti dalam hidup kita. Itu bisa kita terima dari setiap orang di sekitar kita. Hal yang terpenting adalah latih dirimu untuk menerima apapun yang baik untuk jiwa dan membuang apapun yang tidak baik untuknya.
Apakah saya sudah menguasainya? Sepertinya belum. Tapi saya akan berusaha untuk mengejarnya. Karena saya merasa saya berhak memberikan asupan kata-kata baik untuk jiwa dan raga saya.
No comments:
Post a Comment