Friday, October 4, 2013

Impian

"Ketika bermimpi masih gratis, bermimpilah setinggi-tingginya!". Kata-kata ini adalah satu dari banyak kata-kata positif yang saya tanamkan di kepala saya. Mumpung mimpi masih belum dibatsi, mumpung mimpi belum dipajaki, mumpung mimpi masih gratis, saya mau bermimpi setinggi-tingginya.

Sekarang ini saya masih menyelesaikan tugas akhir saya di fakultas psikologi di salah satu universitas swasta. Idealnya setelah saya lulus, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama adalah mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi saya. Pilihan kedua adalah melanjutkan bidang studi saya ke tahap yang lebih tinggi (baca: S2). Sayangnya, di kepala saya kedua pilihan tersebut hampir tidak saya gubris sama sekali. Hal ini bisa terjadi karena seiring berjalannya waktu, saya menemukan passion saya, yaitu makeup. Bermula dari sekedar tuntutan untuk tampil lebih cantik, saya pun mulai berkenalan dengan benda-benda cantik itu. Lama-kelamaan mereka mulai menjadi hobi. Tiada satu hari pun saya tidak mem-browsing tentang mereka, mulai membaca review sampai menonton makeup tutorial di Youtube. Lalu, saya mencobanya di wajah saya sendiri, bahkan di wajah teman-teman saya setiap ada kesempatan. Walau, pada mulanya hasil karya saya masih "amburadul", tapi saya tidak pernah berhenti untuk belajar. Rasanya haus untuk bisa menjadi lebih baik lagi dan lagi.

Bagi saya, membaca, melihat, dan mempelajari hal-hal berbau makeup merupakan saat yang membahagiakan. Sampai saya mulai berpikir alangkah menyenangkan apabila saya bisa memcari uang dari makeup. Ya, menjadi seorang makeup artist! Itu impian saya. Saya ingin menjadi seorang makeup artist handal. Saya letakan impian saya ke posisi yang tinggi. Tapi, yang harus diingat adalah ketika kita memasang target yang tinggi, maka perjuangan untuk mendakinya juga lebih panjang dan sulit.

Apa kata orang nantinya? Bagaimana saya bisa mencapai impian saya? Butuh modal berapa banyak lagi? Butuh waktu berapa lama lagi?
Pertanyaan-pertanyaan ini terkadang menghantui saya. Takut? Ya, jelas ada rasa takut. Namun, setiap impian yang tinggi harus dikejar dengan usaha yang lebih bukan? Jadi, mungkin itu harga yang mesti saya bayar.

Jika ditanya apa rencana terdekat saya untuk menggapai mimpi saya, maka yang akan saya jawab adalah menyelesaikan kuliah saya. Simply, karena itu target terdekat yang saya bisa kejar.
Impian yang tinggi tidak bisa kita capai ketika kita belum mencapai target-target terdekat kita.Walau terkadang target-target terdekat itu tidak berhubungan dengan impian kita yang sebenarnya. Namun, jika kita tidak melaluinya, kita tidak bisa melangkah ke target selanjutnya.

Apa impian mu? Jika belum ada, mungkin kamu boleh mulai memikirkannya. Selagi bermimpi masih gratis, bermimpilah setinggi-tingginya. Tapi jangan lupa komitmen, kerja keras, dan harga yang perlu kamu bayar untuk mencapainya. Good luck!

No comments: