"Ketika bermimpi masih gratis, bermimpilah setinggi-tingginya!". Kata-kata ini adalah satu dari banyak kata-kata positif yang saya tanamkan di kepala saya. Mumpung mimpi masih belum dibatsi, mumpung mimpi belum dipajaki, mumpung mimpi masih gratis, saya mau bermimpi setinggi-tingginya.
Sekarang ini saya masih menyelesaikan tugas akhir saya di fakultas psikologi di salah satu universitas swasta. Idealnya setelah saya lulus, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama adalah mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi saya. Pilihan kedua adalah melanjutkan bidang studi saya ke tahap yang lebih tinggi (baca: S2). Sayangnya, di kepala saya kedua pilihan tersebut hampir tidak saya gubris sama sekali. Hal ini bisa terjadi karena seiring berjalannya waktu, saya menemukan passion saya, yaitu makeup. Bermula dari sekedar tuntutan untuk tampil lebih cantik, saya pun mulai berkenalan dengan benda-benda cantik itu. Lama-kelamaan mereka mulai menjadi hobi. Tiada satu hari pun saya tidak mem-browsing tentang mereka, mulai membaca review sampai menonton makeup tutorial di Youtube. Lalu, saya mencobanya di wajah saya sendiri, bahkan di wajah teman-teman saya setiap ada kesempatan. Walau, pada mulanya hasil karya saya masih "amburadul", tapi saya tidak pernah berhenti untuk belajar. Rasanya haus untuk bisa menjadi lebih baik lagi dan lagi.
Bagi saya, membaca, melihat, dan mempelajari hal-hal berbau makeup merupakan saat yang membahagiakan. Sampai saya mulai berpikir alangkah menyenangkan apabila saya bisa memcari uang dari makeup. Ya, menjadi seorang makeup artist! Itu impian saya. Saya ingin menjadi seorang makeup artist handal. Saya letakan impian saya ke posisi yang tinggi. Tapi, yang harus diingat adalah ketika kita memasang target yang tinggi, maka perjuangan untuk mendakinya juga lebih panjang dan sulit.
Apa kata orang nantinya? Bagaimana saya bisa mencapai impian saya? Butuh modal berapa banyak lagi? Butuh waktu berapa lama lagi?
Pertanyaan-pertanyaan ini terkadang menghantui saya. Takut? Ya, jelas ada rasa takut. Namun, setiap impian yang tinggi harus dikejar dengan usaha yang lebih bukan? Jadi, mungkin itu harga yang mesti saya bayar.
Jika ditanya apa rencana terdekat saya untuk menggapai mimpi saya, maka yang akan saya jawab adalah menyelesaikan kuliah saya. Simply, karena itu target terdekat yang saya bisa kejar.
Impian yang tinggi tidak bisa kita capai ketika kita belum mencapai target-target terdekat kita.Walau terkadang target-target terdekat itu tidak berhubungan dengan impian kita yang sebenarnya. Namun, jika kita tidak melaluinya, kita tidak bisa melangkah ke target selanjutnya.
Apa impian mu? Jika belum ada, mungkin kamu boleh mulai memikirkannya. Selagi bermimpi masih gratis, bermimpilah setinggi-tingginya. Tapi jangan lupa komitmen, kerja keras, dan harga yang perlu kamu bayar untuk mencapainya. Good luck!
Friday, October 4, 2013
Friday, September 27, 2013
Depression
"Hai, Hidup.. Apa kabar? Aku harap keadaan-mu baik-baik saja. Sedang sibuk apa kau sekarang? Sudah lama kita tidak bertemu," kata Waktu sambil terengah-engah.
"Hai,Waktu. Aku..yah begini lah aku.." jawab hidup lemas.
"Sepertinya kau sedang sedih. Maaf, jika kita tidak punya waktu untuk bersama. Namun, aku sungguh sibuk. Aku harus terus berjalan, bahkan berlari. Semakin hari, aku semakin cepat dan hanya ingin bertambah cepat. Tapi, sesungguhnya aku sedikit merindukanmu."
"Jika kau sungguh merindukan aku, perlambat sedikit lajumu, wahai sahabat lama-ku.. Aku sungguh ingin berjalan berdampingan dengan mu," balas Hidup.
"Jika aku punya kekuatan, aku akan menghentikan laju-ku untuk menemani mu, Hidup. Sayangnya, hal tersebut tidak dapat kulakukan. Apa jadinya jika aku berhenti? Mungkin Uang, Teknologi, Media, dan teman-teman kita lainnya akan marah. Mereka membutuhkan aku untuk terus maju. Maaf, sobat..." jawab Waktu sambil berusaha membuat hidup memahami keadaannya.
"Ya, Waktu. Aku mengerti. Kau penting. Kau dibutuhkan untuk terus melangkah, berjalan, bahkan berlari. Sudahlah jangan hiraukan kicauan-ku... Mungkin aku yang terlalu meminta banyak daripada mu. Mungkin aku terlalu egois dan mementingkan diriku sendiri.. Sudah, pergi sana.. Aku tidak mau menahan mu.."
"Benar tidak masalah? Baiklah.. Aku tinggal dulu, hidup.. Sampai jumpa.." Waktu pun berlari dengan cepatnya meninggalkan Hidup yang berjalan lemas seperti menanggung beban berat di kedua pundaknya. Hidup berjalan dengan lunglai. Langkahnya sudah tidak terkendali lagi.
Hidup lalu tersungkur. Ia sudah tidak kuat menahan bebannya lagi. Waktu yang berlalu terlalu cepat hanya membuat ia semakin merasa kesepian. Hidup penuh kekosongan. Hidup memasukan tangan ke dalam kantong jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan biru di dalamnya. Ia sesaat menatap ke botol tersebut. Tangisnya tidak bisa dibendung. Hidup menangis. Ia menangis tersedu-sedu. Tangannya gemetar berusaha membuka botol tersebut. Hidup lalu meminum habis semuanya. Mata hidup menjadi berat dan berat. Hidup semakin kehilangan kesadaran. Tidak lama setelah itu, Hidup tertidur. Namun, Hidup tidur dan tidak akan terbangun lagi.
Seketika Hidup berhenti, Waktu pun berhenti.
Andai mereka bisa berdampingan lebih baik lagi...
Wednesday, July 3, 2013
Mencari Sesuatu yang Hilang
Tabularasa mengatakan bahwa manusia dilahirkan bagai kertas putih, polos, tanpa setitik noda. Namun, ilmu pengetahuan memberi pandangan berbeda mengenai manusia. Manusia yang terlahirkan dengan untaian rantai DNA. Separuh ibu, separuh ayah, dan sepenuhnya titipan Illahi.
Manusia membawa karunia dalam setiap titik tubuhnya. Itu disebut talenta.
Talenta diam di dalam tubuh manusia menunggu untuk digunakan. Sebagian orang tidak menyadari talentanya dan membiarkannya senantiasa dorman. Sebagian lagi dapat melihatnya dengan jelas, mengembangkannya, hingga merekah dengan sempurna.
Ada kalanya talenta itu diredam, dikekang, atau tidak disalurkan. Entah dengan alasan apapun, tapi ketika hal itu terjadi maka manusia tidak akan lengkap. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Dan, itu yang sedang saya rasakan. Saya ingin berdiri di panggung. Saya ingin menari, menyanyi, memasuki peran-peran. Saya ingin melukis di kertas, saya ingin melukis di wajah. Saya ingin talenta ini tersalurkan. Namun, saya tidak tahu dapat disalurkan kemana.
Saya ingin merasa hidup. Saya ingin merasa lengkap. Saya ingin melihat saya bertalenta. Saya ingin mencari sesuatu yang hilang.
Tuesday, April 9, 2013
Wanita berpria = wanita dependence?
Delapan belas tahun hidup men-jomblo VS lima tahun hidup berpacaran. Delapan belas tahun hidup
sendiri tanpa menitipkan hati melawan lima tahun berbagi hidup dengan seorang
lelaki. Dua keadaan hidup yang benar-benar berbeda. Hidup berpria secara tidak
sadar membuat saya menyerah sedikit demi sedikit dalam berbagai aspek. Kalau dulu
saya harus bisa hidup sendiri, usaha sendiri, senang sendiri, sedih sendiri,
dan ini-itu sendiri. Sekarang saya mulai menyerahkan beberapa “nasib” saya
padanya. Okay, coba saya jelaskan
pernyataan ini dengan beberapa contoh nyata. Di mulai dari pemikiran tentang
masa depan ideal. Sekarang masa depan yang ideal adalah ketika ia bisa punya
karir yang sukses dan saya yang sedang-sedang saja. Pokoknya ia perlu menjadi
mapan dan saya akan aman dengan kemapanannya. Contoh lain, ketika saya memasak,
puas atau tidaknya ia terhadap makanan tersebut menjadi hal penting. Jika dia
tidak suka, itu jadi masalah buat saya. Contoh lainnya, ketika saya sedang sedih dan dia tidak menyemangati, maka saya akan
kecewa dan bertambah sedih. Percayalah masih banyak contoh-contoh nyata lainnya
selain ketiga hal ini. Pada satu titik saya mulai berpikir,”Hey, kamu bukan
diri kamu yang dulu. Dulu kamu mandiri, sekarang kamu sangat bergantung
padanya.”
Pemikiran itu bagai tinju yang memukul tepat sasaran. Uh,
sungguh sakit mendapat peringatan seperti itu dari diri sendiri. Sejujurnya
sedikit merasa malu karena saya bukan wanita yang saya kenal dulu. Dulu saya
adalah wanita yang kompetitif dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Saya
akan berusaha mendapatkan keinginan saya, berusaha mengejar kebahagiaan, dan
menyelesaikan sendiri kekecewaan & kesedihan. Dan, sekarang saya hanya
seorang wanita yang tidak bisa melakukan, menetukan, dan mencapai sesuatu sendiri.
Sedih rasa ketika saya tahu saya terbawa sampai kekeadaan seperti ini. Saya
jadi berpikir apa wanita berpria sama dengan wanita dependence? Jadi untuk bahagia saja jadi se-complicated ini?
Saya mulai berpikir konyol juga hidup saya ini. Apa
urusannya masakan saya menjadi kurang pas karena ia merasa bacon terlalu keras bagi selera ia, sedangkan saya rasa itu enak.
Apa urusannya jika saya membuat cupcakes buat
anniversary kami dibanding memasak
mie goreng karena ia lebih suka (dan baru bilang sebulan setelahnya). Urusan
utamanya adalah saya mengeluarkan usaha saya, saya suka, dan saya berhak
berbahagia. Hal ia puas, suka, atau senang tidak seharusnya seratus persen
mempengaruhi pendapat saya mengenai usaha dan karya saya tersebut. Hal ini
mengingatkan bahwa jika bukan saya yang bisa menghargai apapun usaha dan karya saya,
siapa lagi. Saya adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap apa
yang terjadi dan akan terjadi dalam hidup saya. Saya perlu menjadi lebih gigih,
menghargai segala usaha saya sendiri, dan menyemangati diri sendiri di kala
sulit. Semoga saya akan selalu ingat hal ini, kembali ke arena hidup, dan
bersaing dengan keadaan.
Monday, March 25, 2013
Admire
Sejak sekian lama, sampai akhirnya hari ini saya tersadarkan bahwa saya memang mengagumi pria itu. Kenyataanya adalah rasa suka yang dulu tumbuh juga bermula dari rasa kagum. Dan, rasa kagum itu juga ditemukan dalam bentuk ekspresi wajah ketika saya bercerita mengenainya. :)
Friday, February 1, 2013
Keterbukaan
Pacaran itu hubungan yang rumit.
Pacaran itu seperti belajar terus-menerus tanpa henti.
Pacaran itu usaha dua individu.
Pacaran itu komunikasi dan keterbukaan dari dua anak manusia.
Yah, begitu seharusnya. Namun, keadaannya terkadang tidak se-ideal itu.
Pacaran hampir 5 tahun, belum memastikan bahwa kami 100% cocok. Tidak cukup memastikan bahwa hubungan pacaran kami akan berjalan lancar dan mulus. Ada saat dimana kami bertengkar dan memastikan ego masing-masing tetap tinggi.
Seperti, malam tadi...
Bedanya, ada sesuatu hal menarik yang menyentil dari pertengkaran tadi. Sehingga hal ini perlu ditulis, dibaca kembali, direnungkan, dan diingat.
Kami bertengkar karna kesalahpahaman. Kami masing-masing merasa pasangan kami sibuk dengan hal lain dan saling cuek. Keadaan tersebut padahal terjadi cuma sebentar, tapi dampaknya tidak sesebentar waktu yang kami habiskan untuk saling tidak memperhatikan. Saya merasa dia sibuk dengan kegiatan cuci-mencuci, beres-beres, dan mengecek komputernya. Ia merasa saya hanya peduli dengan foto-foto yang saya lihat di instagram. Pertengkaran dimulai ketika, saya bete dan memasang wajah (yang katanya) bete. Si pacar pun bertanya apakah ada hal yang tidak mengenakan bagi saya. Dan, seperti biasa saya akan jawab "Tidak ada apa-apa", tentunya dengan ketidakniatan saya menjawab. Ia pun mulai mendesak sampai ia marah. Ia merasa ia pun patut marah karna saya juga cuek, padahal ia sudah siap untuk ngobrol. Kami pun adu argumen, tapi saya tetap tidak mengatakan secara langsung "Iya, aku kesel karena kamu cuekin aku. Karena blablabla....". Ia pun amat sangat marah.
Singkat cerita, akhirnya kemarahan pun mereda. Kami mulai bicara dengan nada lebih biasa. Ia mengatakan ia marah karena saya begitu sulit mengatakan sumber kekesalan saya. Menurutnya saya boleh saja menyimpan kekesalan itu, tapi saya harus bersikap biasa seakan saya tidak kesal. Apabila saya ingin bersikap kesal, saya harus berani menyampaikan kekesalan saya beserta alasannya. Hei, buat saya itu tidak mudah. Entah ada apa dengan diri saya di masa kecil. Saya dibiasakan untuk tidak boleh kesal sama orang, terutama orang tua. Hal ini membuat saya kadang tidak bisa asertif mengatakan sesuatu hal yang saya tidak sukai.
Ada satu kalimat yang ia sampaikan hingga timbul perasaan tertohok dan tenang di saat bersamaan. Ia bilang, "Aku bukan orang tua kamu, aku bukan temen kamu, aku bukan orang lain, ini aku." Rasanya kalimat ini bisa diinterpretasikan seperti ia dan saya tidak lagi berbatasan. Kami harusnya bisa saling berbagi dan terbuka. Berbagi entah itu hal yang manis, maupun pahit. Terbuka walaupun itu menyenangkan, maupun hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Rasanya ingin berterima kasih padanya karena telah diingatkan suatu hal yang penting di dalam hubungan kami. Tapi mulut ini masih bungkam, rasanya kata-kata itu tidak keluar. Namun, sungguh dan tulus saya bersyukur tadi ia mengatakan hal itu.
Terima kasih, kekasih.
Pacaran itu seperti belajar terus-menerus tanpa henti.
Pacaran itu usaha dua individu.
Pacaran itu komunikasi dan keterbukaan dari dua anak manusia.
Yah, begitu seharusnya. Namun, keadaannya terkadang tidak se-ideal itu.
Pacaran hampir 5 tahun, belum memastikan bahwa kami 100% cocok. Tidak cukup memastikan bahwa hubungan pacaran kami akan berjalan lancar dan mulus. Ada saat dimana kami bertengkar dan memastikan ego masing-masing tetap tinggi.
Seperti, malam tadi...
Bedanya, ada sesuatu hal menarik yang menyentil dari pertengkaran tadi. Sehingga hal ini perlu ditulis, dibaca kembali, direnungkan, dan diingat.
Kami bertengkar karna kesalahpahaman. Kami masing-masing merasa pasangan kami sibuk dengan hal lain dan saling cuek. Keadaan tersebut padahal terjadi cuma sebentar, tapi dampaknya tidak sesebentar waktu yang kami habiskan untuk saling tidak memperhatikan. Saya merasa dia sibuk dengan kegiatan cuci-mencuci, beres-beres, dan mengecek komputernya. Ia merasa saya hanya peduli dengan foto-foto yang saya lihat di instagram. Pertengkaran dimulai ketika, saya bete dan memasang wajah (yang katanya) bete. Si pacar pun bertanya apakah ada hal yang tidak mengenakan bagi saya. Dan, seperti biasa saya akan jawab "Tidak ada apa-apa", tentunya dengan ketidakniatan saya menjawab. Ia pun mulai mendesak sampai ia marah. Ia merasa ia pun patut marah karna saya juga cuek, padahal ia sudah siap untuk ngobrol. Kami pun adu argumen, tapi saya tetap tidak mengatakan secara langsung "Iya, aku kesel karena kamu cuekin aku. Karena blablabla....". Ia pun amat sangat marah.
Singkat cerita, akhirnya kemarahan pun mereda. Kami mulai bicara dengan nada lebih biasa. Ia mengatakan ia marah karena saya begitu sulit mengatakan sumber kekesalan saya. Menurutnya saya boleh saja menyimpan kekesalan itu, tapi saya harus bersikap biasa seakan saya tidak kesal. Apabila saya ingin bersikap kesal, saya harus berani menyampaikan kekesalan saya beserta alasannya. Hei, buat saya itu tidak mudah. Entah ada apa dengan diri saya di masa kecil. Saya dibiasakan untuk tidak boleh kesal sama orang, terutama orang tua. Hal ini membuat saya kadang tidak bisa asertif mengatakan sesuatu hal yang saya tidak sukai.
Ada satu kalimat yang ia sampaikan hingga timbul perasaan tertohok dan tenang di saat bersamaan. Ia bilang, "Aku bukan orang tua kamu, aku bukan temen kamu, aku bukan orang lain, ini aku." Rasanya kalimat ini bisa diinterpretasikan seperti ia dan saya tidak lagi berbatasan. Kami harusnya bisa saling berbagi dan terbuka. Berbagi entah itu hal yang manis, maupun pahit. Terbuka walaupun itu menyenangkan, maupun hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Rasanya ingin berterima kasih padanya karena telah diingatkan suatu hal yang penting di dalam hubungan kami. Tapi mulut ini masih bungkam, rasanya kata-kata itu tidak keluar. Namun, sungguh dan tulus saya bersyukur tadi ia mengatakan hal itu.
Terima kasih, kekasih.
Subscribe to:
Comments (Atom)