Delapan belas tahun hidup men-jomblo VS lima tahun hidup berpacaran. Delapan belas tahun hidup
sendiri tanpa menitipkan hati melawan lima tahun berbagi hidup dengan seorang
lelaki. Dua keadaan hidup yang benar-benar berbeda. Hidup berpria secara tidak
sadar membuat saya menyerah sedikit demi sedikit dalam berbagai aspek. Kalau dulu
saya harus bisa hidup sendiri, usaha sendiri, senang sendiri, sedih sendiri,
dan ini-itu sendiri. Sekarang saya mulai menyerahkan beberapa “nasib” saya
padanya. Okay, coba saya jelaskan
pernyataan ini dengan beberapa contoh nyata. Di mulai dari pemikiran tentang
masa depan ideal. Sekarang masa depan yang ideal adalah ketika ia bisa punya
karir yang sukses dan saya yang sedang-sedang saja. Pokoknya ia perlu menjadi
mapan dan saya akan aman dengan kemapanannya. Contoh lain, ketika saya memasak,
puas atau tidaknya ia terhadap makanan tersebut menjadi hal penting. Jika dia
tidak suka, itu jadi masalah buat saya. Contoh lainnya, ketika saya sedang sedih dan dia tidak menyemangati, maka saya akan
kecewa dan bertambah sedih. Percayalah masih banyak contoh-contoh nyata lainnya
selain ketiga hal ini. Pada satu titik saya mulai berpikir,”Hey, kamu bukan
diri kamu yang dulu. Dulu kamu mandiri, sekarang kamu sangat bergantung
padanya.”
Pemikiran itu bagai tinju yang memukul tepat sasaran. Uh,
sungguh sakit mendapat peringatan seperti itu dari diri sendiri. Sejujurnya
sedikit merasa malu karena saya bukan wanita yang saya kenal dulu. Dulu saya
adalah wanita yang kompetitif dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Saya
akan berusaha mendapatkan keinginan saya, berusaha mengejar kebahagiaan, dan
menyelesaikan sendiri kekecewaan & kesedihan. Dan, sekarang saya hanya
seorang wanita yang tidak bisa melakukan, menetukan, dan mencapai sesuatu sendiri.
Sedih rasa ketika saya tahu saya terbawa sampai kekeadaan seperti ini. Saya
jadi berpikir apa wanita berpria sama dengan wanita dependence? Jadi untuk bahagia saja jadi se-complicated ini?
Saya mulai berpikir konyol juga hidup saya ini. Apa
urusannya masakan saya menjadi kurang pas karena ia merasa bacon terlalu keras bagi selera ia, sedangkan saya rasa itu enak.
Apa urusannya jika saya membuat cupcakes buat
anniversary kami dibanding memasak
mie goreng karena ia lebih suka (dan baru bilang sebulan setelahnya). Urusan
utamanya adalah saya mengeluarkan usaha saya, saya suka, dan saya berhak
berbahagia. Hal ia puas, suka, atau senang tidak seharusnya seratus persen
mempengaruhi pendapat saya mengenai usaha dan karya saya tersebut. Hal ini
mengingatkan bahwa jika bukan saya yang bisa menghargai apapun usaha dan karya saya,
siapa lagi. Saya adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap apa
yang terjadi dan akan terjadi dalam hidup saya. Saya perlu menjadi lebih gigih,
menghargai segala usaha saya sendiri, dan menyemangati diri sendiri di kala
sulit. Semoga saya akan selalu ingat hal ini, kembali ke arena hidup, dan
bersaing dengan keadaan.
No comments:
Post a Comment