Saturday, March 1, 2014

Number Six

Hai, kamu.
Hari ini 6th annivesary kita.
6 tahun menjalani suka duka bersama.
Harusnya hari ini penuh dengan senyum kebahagiaan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Mungkin kita bisa pergi makan dan saling bertukar hadiah seperti dulu.

Sayangnya, segala hal manis sudah habis tak tersisa.
Di saat kamu bilang hubungan ini segera sampai pada akhirnya.
Segala alasan yang sekalipun logis, tidak bisa dinalar lagi.
Rasanya tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan perasaan ini.
Sungguh, aku tidak pernah membayangkan seperti ini perayaan keenam pacaran kita.
Kalau boleh aku berharap ini semua hanya mimpi buruk dan aku segera bangun dari tidur.
Setegar-tegarnya aku berusaha, tapi sejujurnya aku ingin kita kembali bergandengan tangan dengan penuh cinta.
Bisa kah hal itu terjadi?

Ya, sepertinya tidak.
Sepertinya aku harus mengerti bahwa mungkin Tuhan sedang ingin aku belajar ikhlas dan sabar.
Namun, air mata ini rasanya seperti tidak bisa berhenti mengalir.
Berulang kali aku seperti tersadar dan melihat lebih jelas betapa besar aku menyayangi mu.
Betapa tersiksanya ketika aku harus tahu kita harus berpisah.

6 tahun mungkin waktu yang singkat bagi sebagian orang.
Tapi bagiku itu perjalanan yang tidak akan terlupakan.

Terima kasih untuk perjalanan ini.
Maaf jika aku telah melukai hatimu juga.
Terima kasih karena telah menjadi sahabat yang selalu bisa diandalkan.

Pada akhirnya, di atas segala penderitaan dan kesedihan yang sekarang aku alami, aku merasa bersyukur masih diberikan kesempatan untuk mencintai seseorang sebesar ini.
Karna setiap air mata dan luka membuktikan apa yang aku alami nyata.
Bahwa cinta dan sayang ku pada mu benar-benar ada.

Aku terus bertanya-tanya lalu akan kemana kah perasaan ini?
Apakah aku akan bisa melupakan mu?
Aku pun belum tahu, aku belum bisa melihat jawabannya.

Tuesday, January 28, 2014

Message For All Women!

I didn't write it. I found this from Female Daily forum, when one lady wrote the link there. I think this is a good message for me and another woman out there. So, i put it in my blog.

"

If a man wants you, nothing can keep him away. If he doesn't want you, nothing can make him stay. Stop making excuses for a man and his behavior. Allow your intuition (or spirit) to save you from heartache. Stop trying to change yourselves for a relationship that's not meant to be. Slower is better. Never live your life for a man before you find what makes you truly happy. If a relationship ends because the man was not treating you as you deserve then heck no, you can't "be friends." A friend wouldn't mistreat a friend. Don't settle. If you feel like he is stringing you along, then he probably is. Don't stay because you think "it will get better." You'll be mad at yourself a year later for staying when things are not better. The only person you can control in a relationship is you. Avoid men who've got a bunch of children by a bunch of different women. He didn't marry them when he got them pregnant, Why would he treat you any differently? Always have your own set of friends separate from his. Maintain boundaries in how a guy treats you. If something bothers you, speak up. Never let a man know everything. He will use it against you later. You cannot change a man's behavior. Change comes from within. Don't EVER make him feel he is more important than you are...even if he has more education or in a better job. Do not make him into a quasi-god. He is a man, nothing more nothing less. Never let a man define who you are. Never borrow someone else's man. Oh Lord! If he cheated with you, he'll cheat on you. A man will only treat you the way you ALLOW him to treat you. All men are NOT dogs. You should not be the one doing all the bending...compromise is a two-way street. You need time to heal between relationships...there is nothing cute about baggage... deal with your issues before pursuing a new relationship You should never look for someone to COMPLETE you...a relationship consists of two WHOLE individuals...look for someone complimentary...not supplementary. Dating is fun...even if he doesn't turn out to be Mr.. Right. Make him miss you sometimes...when a man always know where you are, and your always readily available to him- he takes it for granted. Don't fully commit to a man who doesn't give you everything that you need. Keep him in your radar but get to know others. Share this with other ladies..... You'll make someone SMILE, another RETHINK her choices, and another woman PREPARE."

Friday, January 24, 2014

Kalau... (Curhatan)

Ada beberapa hal yang perlu gw tulis disini sebelum gw lupa. Karena hal ini penting buat gw di masa mendatang. Tulisan ini buat diri gw yang belum gw temuin sebelumnya.

Ada beberapa hal yang gw harapin akan bisa gw sampaikan ke diri gw sendiri nanti. Yah, nanti...
Dan, i don't have clue "nanti"-nya itu kapan.

Gw pengen banget nanti gw bisa ngomong ke diri gw sendiri:

1. Kalau lu ga putus, lu engga akan move on!
2. Kalau lu ga putus, lu ga akan fokus sama diri lu sendiri dan terus mengecilkan kapasitas diri lu!
3. Kalau lu ga putus, lu ga akan mikirin impian lu dan mengejarnya!
4. Kalau lu ga putus, lu ga akan jadi diri lu yang sekarang!

So, be grateful!

Wednesday, January 15, 2014

Patah hati (lagi)...?

Kata orang putus cinta itu biasa.

Kata orang semua pernah mengalami dan berhasil melaluinya.

Kata orang yang perlu dilakukan cuma satu, yaitu: MOVE ON!

Tapi...

Kenapa rasanya begitu menyakitkan?

Bagaimana bisa melupakan kalau setiap kali menutup mata yang terbayang wajahnya?

Bagaimana melupakan kalau setiap diam yang terdengar suaranya?

Bagaimana...?

Bagaimana melupakan kalau semua kenangan tentang dia terus-menerus mengalir deras sampai rasanya sudah tidak bisa terbendung lagi?

Rasanya masa depan hanya banyangan gelap. Segelap ruang-ruang hati yang ditinggalkan.

Mengapa harus ada perjumpaan manis, jika berakhir dengan perpisahan yang pahit dan getir?

Buat apa setiap hari, jam, menit, bahkan detik yang dilalui bersama jika pada akhirnya semua harus dilupakan?

Sejujurnya, saya bukan orang yang cukup kuat menghadapi perpisahan, terlebih dengan orang yang paling saya sayang.

Saya tidak terima kalau orang-orang di luar sana menganggap hancurnya hati saya ini adalah hal yang biasa. Karena ini sama sekali tidak biasa.

Saya berusaha tabah dan merasakan tiap lukanya. Bukan karena saya ingin menikmatinya. Saya rasa sudah sepantasnya saya berduka di saat saya kehilangan sesuatu yang amat berharga.

Saya janjikan diri saya hari depan yang lebih baik, walaupun saya ragu untuk menjemputnya. Karena, saya masih ada di masa sekarang. Masa-masa berduka karena kehilangan.

Friday, January 3, 2014

Words

Menarik adalah ketika suatu perkataan bisa berdampak besar terhadap hidup seseorang.

Ga percaya?

Coba deh kita berpikir sejenak, kira-kira kenapa sih orang-orang pada rela mengantri, menyiapkan waktu, dan mengeluarkan uang untuk seminar motivasi?

Kenapa di jejaring sosial macam twitter, path, facebook, tumblr, dkk sangat mudah kita temukan orang-orang mengepost kalimat-kalimat bijak hingga curhatan ampas?

Dan, segala kata-kata yang kita dengar dan baca berdampak besar terhadap hidup kita?

Pagi ini, saya terbangun dengan perasaan yang kalut. Rasanya hati ini disayat-sayat. Hal ini disebabkan karena saya mengingat perkataan yang saya terima beberapa saat lalu.
Kata-kata yang setiap pasangan kekasih tidak ingin dengar. Apapun itu. Bayangkan dengan imajinasi-mu.
Kembali ke pembicaraan kita. Yah, kata-kata itu bagai pisau yang menikam berulang-ulang.
Lantas, saya pun mulai berpikir "Mengapa saya harus membawa beban perkataan itu dalam kehidupan saya?" dan "Mengapa perkataan-perkataan itu dapat membuat hidup saya tidak bahagia?".
Karena sebagian orang mengucapkan perkataan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Dan, sebagian orang lagi secara khilaf menyebutkan perkatannya.
Mengapa kita, sang pendengar, membiarkan perkataan itu hidup dan menggerogoti tubuh kita dari dalam?
Apa hak kata-kata itu?

Pada akhirnya, saya menemukan pencerahan bahwa sesungguhnya ada hal yang lebih penting dari perkataan-perkataan yang kita dengar. Hal itu adalah diri kita sendiri. Kita filternya. Kita bisa membiarkan perkataan itu masuk dan hidup di dalam diri kita. Seperti membiarkan kata-kata bijak nan memberi semangat mendorong kita untuk maju. Sama halnya seperti kita membiarkan perkataan negatif menghancurkan diri kita dari dalam secara perlahan.

Komentar, perkataan, tanggapan, cacian, dan apapun bentuk perkataan itu tidak akan pernah berenti dalam hidup kita. Itu bisa kita terima dari setiap orang di sekitar kita. Hal yang terpenting adalah latih dirimu untuk menerima apapun yang baik untuk jiwa dan membuang apapun yang tidak baik untuknya.

Apakah saya sudah menguasainya? Sepertinya belum. Tapi saya akan berusaha untuk mengejarnya. Karena saya merasa saya berhak memberikan asupan kata-kata baik untuk jiwa dan raga saya.

Friday, October 4, 2013

Impian

"Ketika bermimpi masih gratis, bermimpilah setinggi-tingginya!". Kata-kata ini adalah satu dari banyak kata-kata positif yang saya tanamkan di kepala saya. Mumpung mimpi masih belum dibatsi, mumpung mimpi belum dipajaki, mumpung mimpi masih gratis, saya mau bermimpi setinggi-tingginya.

Sekarang ini saya masih menyelesaikan tugas akhir saya di fakultas psikologi di salah satu universitas swasta. Idealnya setelah saya lulus, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama adalah mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi saya. Pilihan kedua adalah melanjutkan bidang studi saya ke tahap yang lebih tinggi (baca: S2). Sayangnya, di kepala saya kedua pilihan tersebut hampir tidak saya gubris sama sekali. Hal ini bisa terjadi karena seiring berjalannya waktu, saya menemukan passion saya, yaitu makeup. Bermula dari sekedar tuntutan untuk tampil lebih cantik, saya pun mulai berkenalan dengan benda-benda cantik itu. Lama-kelamaan mereka mulai menjadi hobi. Tiada satu hari pun saya tidak mem-browsing tentang mereka, mulai membaca review sampai menonton makeup tutorial di Youtube. Lalu, saya mencobanya di wajah saya sendiri, bahkan di wajah teman-teman saya setiap ada kesempatan. Walau, pada mulanya hasil karya saya masih "amburadul", tapi saya tidak pernah berhenti untuk belajar. Rasanya haus untuk bisa menjadi lebih baik lagi dan lagi.

Bagi saya, membaca, melihat, dan mempelajari hal-hal berbau makeup merupakan saat yang membahagiakan. Sampai saya mulai berpikir alangkah menyenangkan apabila saya bisa memcari uang dari makeup. Ya, menjadi seorang makeup artist! Itu impian saya. Saya ingin menjadi seorang makeup artist handal. Saya letakan impian saya ke posisi yang tinggi. Tapi, yang harus diingat adalah ketika kita memasang target yang tinggi, maka perjuangan untuk mendakinya juga lebih panjang dan sulit.

Apa kata orang nantinya? Bagaimana saya bisa mencapai impian saya? Butuh modal berapa banyak lagi? Butuh waktu berapa lama lagi?
Pertanyaan-pertanyaan ini terkadang menghantui saya. Takut? Ya, jelas ada rasa takut. Namun, setiap impian yang tinggi harus dikejar dengan usaha yang lebih bukan? Jadi, mungkin itu harga yang mesti saya bayar.

Jika ditanya apa rencana terdekat saya untuk menggapai mimpi saya, maka yang akan saya jawab adalah menyelesaikan kuliah saya. Simply, karena itu target terdekat yang saya bisa kejar.
Impian yang tinggi tidak bisa kita capai ketika kita belum mencapai target-target terdekat kita.Walau terkadang target-target terdekat itu tidak berhubungan dengan impian kita yang sebenarnya. Namun, jika kita tidak melaluinya, kita tidak bisa melangkah ke target selanjutnya.

Apa impian mu? Jika belum ada, mungkin kamu boleh mulai memikirkannya. Selagi bermimpi masih gratis, bermimpilah setinggi-tingginya. Tapi jangan lupa komitmen, kerja keras, dan harga yang perlu kamu bayar untuk mencapainya. Good luck!

Friday, September 27, 2013

Depression

"Hai, Hidup.. Apa kabar? Aku harap keadaan-mu baik-baik saja. Sedang sibuk apa kau sekarang? Sudah lama kita tidak bertemu," kata Waktu sambil terengah-engah.

"Hai,Waktu. Aku..yah begini lah aku.." jawab hidup lemas.

"Sepertinya kau sedang sedih. Maaf, jika kita tidak punya waktu untuk bersama. Namun, aku sungguh sibuk. Aku harus terus berjalan, bahkan berlari. Semakin hari, aku semakin cepat dan hanya ingin bertambah cepat. Tapi, sesungguhnya aku sedikit merindukanmu."

"Jika kau sungguh merindukan aku, perlambat sedikit lajumu, wahai sahabat lama-ku.. Aku sungguh ingin berjalan berdampingan dengan mu," balas Hidup.

"Jika aku punya kekuatan, aku akan menghentikan laju-ku untuk menemani mu, Hidup. Sayangnya, hal tersebut tidak dapat kulakukan. Apa jadinya jika aku berhenti? Mungkin Uang, Teknologi, Media, dan teman-teman kita lainnya akan marah. Mereka membutuhkan aku untuk terus maju. Maaf, sobat..." jawab Waktu sambil berusaha membuat hidup memahami keadaannya.

"Ya, Waktu. Aku mengerti. Kau penting. Kau dibutuhkan untuk terus melangkah, berjalan, bahkan berlari. Sudahlah jangan hiraukan kicauan-ku... Mungkin aku yang terlalu meminta banyak daripada mu. Mungkin aku terlalu egois dan mementingkan diriku sendiri.. Sudah, pergi sana.. Aku tidak mau menahan mu.."

"Benar tidak masalah? Baiklah.. Aku tinggal dulu, hidup.. Sampai jumpa.." Waktu pun berlari dengan cepatnya meninggalkan Hidup yang berjalan lemas seperti menanggung beban berat di kedua pundaknya. Hidup berjalan dengan lunglai. Langkahnya sudah tidak terkendali lagi.

Hidup lalu tersungkur. Ia sudah tidak kuat menahan bebannya lagi. Waktu yang berlalu terlalu cepat hanya membuat ia semakin merasa kesepian. Hidup penuh kekosongan. Hidup memasukan tangan ke dalam kantong jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan biru di dalamnya. Ia sesaat menatap ke botol tersebut. Tangisnya tidak bisa dibendung. Hidup menangis. Ia menangis tersedu-sedu. Tangannya gemetar berusaha membuka botol tersebut. Hidup lalu meminum habis semuanya. Mata hidup menjadi berat dan berat. Hidup semakin kehilangan kesadaran. Tidak lama setelah itu, Hidup tertidur. Namun, Hidup tidur dan tidak akan terbangun lagi.

Seketika Hidup berhenti, Waktu pun berhenti.

Andai mereka bisa berdampingan lebih baik lagi...