Tuesday, January 10, 2012

Rush

Kemarin mobil keluarga kami satu-satunya dijual. Itu mobil pertama yang keluarga kami dapat beli. Yah, sebelum-sebelumnya memang sudah ada mobil tapi mobil pinjaman dari kantor. Rasanya tentu berbeda ketika memiliki mobil sendiri. Mobilnya bukan mobil mewah, hanya mobil biasa saja. Namun, untukku itu lebih dari mobil biasa.
Kemarin sore, sebelum hujan turun, mobil itu diambil oleh si pembeli. Aku tidak berani keluar dari kamar dan menyaksikan ia diambil. Sedih rasanya. Mungkin bagimu terdengar konyol. "Mobil khan hanya sebongkah besi? Mobil khan hanya benda mati?", mungkin begitu pikirmu. Aku tidak menyangkal perkataanmu. Benar, mobilku hanya sebongkah besi beroda, ia tidak bernyawa. Ia hanya mobil si benda mati. Tapi, benda mati itu memiliki banyak kenangan bersamaku.
Sepanjang malam,aku kembali merenungkan perjalanan dengan mobilku. Ia yang bersamaku berjalan ribuan kilometer. Ada kalanya aku tertawa terbahak-bahak di bangku kulitnya. Pasti saat itu, mataku sedang berbinar-binar. Adapun juga, waktu dimana aku sedih, hingga selama berjalan dengannya aku menangis. Biasanya kututupi tangisan itu dengan menatap ke arah jendela, seakan-akan aku memandang ke luar jendela. Saat itu aku bisa puas menangis.
Terkadang tidak ada kejadian dramatis apapun di mobil itu. Hanya aku, dia, dan jalan. Aku bisa tidur dengan nyaman di bangkunya, seakan ia menimangku. Aku juga suka menatap ke arah jalan, melihat kegiatan yang ada di sepanjang perjalanan. Oh yah, terkadang juga aku kesal bersamanya di saat macet. Ia tahu pasti gimana kesalnya aku saat mengalami kemacetan. Mobil itu memang benda mati, tapi ia bersamaku menjalani berbagai perjalanan.
Ada kalanya aku sedang sendiri menunggu dijemput. Saat mobil itu datang seakan menjadi akhir penantianku. Hal-hal ini mungkin biasa saja, simple, dan mungkin banyak orang yang mengalaminya juga. Tapi, saat kau mengambil waktu untuk merenungkannya sejenak, maka ada suatu perasaan aneh menyeruat keluar. Versiku, aku merasa sedih dan bersyukur. Aku mesyukuri kebersamaan dengan mobilku. Aku berusaha ikhlas, sambil berharap siapapun nanti yang mengendarainya bisa mendapat pengalaman-pengalaman seperti diriku.

No comments: