Friday, September 16, 2011

Nyanyian dalam Tangis

Terkadang manusia tidak bisa mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
Terkadang manusia tidak dapat mengartikan isi pikirannya.
Terkadang manusia tak bisa melawan perasaannya.
Begitu pula saya.
Tiga hari yang lalu saya terbangun dalam keadaan yang kalut. Hati ini rasanya sedang dilumat-lumat.
Tidak hanya itu, nafas saya menjadi pendek, dada menjadi sesak, dan tangan gemetar.
Air mata mengalir terus-menerus.
Yah, saya menangis. Menangis tanpa tahu mengapa saya menangis.
Saya rapuh. Saya sakit hati.

Saya berusaha untuk melanjutkan hari dan menjalankan segala aktivitasnya. Namun, hari itu pun tidak berlangsung baik.
Saya harus berjuang ke kampus demi kesia-siaan. Saya hanya bisa lunglai menerima keadaan.
Di perjalanan pulang saya kembali menangis. Saya tak peduli lagi bahwa saya berada dikerumunan orang.
Rasanya ada lubang hitam di dada dan menyedot seisi tubuh saya.
Saya sedih. Saya terluka.

Demi apapun juga, saya tidak pernah mengharapkan hal itu.
Saya tidak mengada-ngada untuk dapat di posisi seperti itu.
Namun, ia tidak mau tau. Ia tidak peduli.
Akhirnya, saya terperosok sendirian dengan hati berdarah-darah.
Hanya satu kesimpulan yang dapat saya tangkap, "Sesayang-sayangnya seseorang kepada mu, tapi di dunia yang kejam ini, ia tidak akan mau menemani mu dalam kepedihan."
Miris dan ironis, tetapi itu yang saya alami.
Saya sendiri. Saya merana.

No comments: