Sesuatu yang buruk yang tidak
pernah diharapkan bisa muncul kapan saja dan dari mana saja. Hidup bagai roda
yang terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Siapa yang memutar?
Tuhan? Atau manusia? Atau takdir? Tidak ada yang pernah tau. Yang pasti saat
kau berada di atas, belum pasti kau tidak akan jatuh ke bawah. Terkadang ketika kau di bawah, sang roda
tidak membawa mu ke atas, tapi menekan mu memasuki lubang di tengah perjalanan.
Setiap manusia punya rodanya
masing-masing. Aku rasa ada beberapa yang memiliki roda dengan diameter besar,
sedang, dan kecil. Bagi yang besar mungkin ia punya luas roda yang lebih besar,
sehingga waktu ia di atas akan lebih panjang. Terkadang, dengan kekuatan mu,
kau dapat mengaturnya untuk berputar lebih lambat atau bahkan menghentikan
perputarannya. Entah berkah apa yang dimiliki si empu roda berdiameter besar
itu. Mungkin ia menimpa roda-roda berukuran kecil itu untuk memperlambat rotasi
roda mereka. Berbagai macam upaya dilakukan agar sang roda tidak berputar ke bawah
dan membawa empunya terperosok jatuh.
Bagaimana dengan empunya roda
sedang, bahkan yang kecil? Apa mereka seakan tidak punya pilihan dan hanya ikut
berotasi hingga kesadaran makin memudar? Bisa dibilang dunia ini tidak adil.
Siapa yang kuat, ia yang bertahan hidup. Siapa yang tidak menindas, akan
tertindas. Kesimpulannya apa aku harus menjadi roda yang menabrak, menikam,
atau memperalat roda lain sehingga aku lebih lambat berputar? Atau kucuri saja
bagian-bagian roda orang hingga kuperbesar diameter roda ku? Andai semudah itu
cara memperbaiki hidup, mungkin sekarang aku sudah berdiri dengan lebih tegak
dengan penuh kebanggan. Nyatanya, aku terbawa arus hidup yang tidak adil, hingga membuatku terperosok dan porak-poranda.