Tuesday, April 9, 2013

Wanita berpria = wanita dependence?


Delapan belas tahun hidup men-jomblo VS lima tahun hidup berpacaran. Delapan belas tahun hidup sendiri tanpa menitipkan hati melawan lima tahun berbagi hidup dengan seorang lelaki. Dua keadaan hidup yang benar-benar berbeda. Hidup berpria secara tidak sadar membuat saya menyerah sedikit demi sedikit dalam berbagai aspek. Kalau dulu saya harus bisa hidup sendiri, usaha sendiri, senang sendiri, sedih sendiri, dan ini-itu sendiri. Sekarang saya mulai menyerahkan beberapa “nasib” saya padanya. Okay, coba saya jelaskan pernyataan ini dengan beberapa contoh nyata. Di mulai dari pemikiran tentang masa depan ideal. Sekarang masa depan yang ideal adalah ketika ia bisa punya karir yang sukses dan saya yang sedang-sedang saja. Pokoknya ia perlu menjadi mapan dan saya akan aman dengan kemapanannya. Contoh lain, ketika saya memasak, puas atau tidaknya ia terhadap makanan tersebut menjadi hal penting. Jika dia tidak suka, itu jadi masalah buat saya.  Contoh lainnya, ketika saya sedang sedih dan dia tidak menyemangati, maka saya akan kecewa dan bertambah sedih. Percayalah masih banyak contoh-contoh nyata lainnya selain ketiga hal ini. Pada satu titik saya mulai berpikir,”Hey, kamu bukan diri kamu yang dulu. Dulu kamu mandiri, sekarang kamu sangat bergantung padanya.”

Pemikiran itu bagai tinju yang memukul tepat sasaran. Uh, sungguh sakit mendapat peringatan seperti itu dari diri sendiri. Sejujurnya sedikit merasa malu karena saya bukan wanita yang saya kenal dulu. Dulu saya adalah wanita yang kompetitif dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Saya akan berusaha mendapatkan keinginan saya, berusaha mengejar kebahagiaan, dan menyelesaikan sendiri kekecewaan & kesedihan. Dan, sekarang saya hanya seorang wanita yang tidak bisa melakukan, menetukan, dan mencapai sesuatu sendiri. Sedih rasa ketika saya tahu saya terbawa sampai kekeadaan seperti ini. Saya jadi berpikir apa wanita berpria sama dengan wanita dependence? Jadi untuk bahagia saja jadi se-complicated ini?

Saya mulai berpikir konyol juga hidup saya ini. Apa urusannya masakan saya menjadi kurang pas karena ia merasa bacon terlalu keras bagi selera ia, sedangkan saya rasa itu enak. Apa urusannya jika saya membuat cupcakes buat anniversary kami dibanding memasak mie goreng karena ia lebih suka (dan baru bilang sebulan setelahnya). Urusan utamanya adalah saya mengeluarkan usaha saya, saya suka, dan saya berhak berbahagia. Hal ia puas, suka, atau senang tidak seharusnya seratus persen mempengaruhi pendapat saya mengenai usaha dan karya saya tersebut. Hal ini mengingatkan bahwa jika bukan saya yang bisa menghargai apapun usaha dan karya saya, siapa lagi. Saya adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dan akan terjadi dalam hidup saya. Saya perlu menjadi lebih gigih, menghargai segala usaha saya sendiri, dan menyemangati diri sendiri di kala sulit. Semoga saya akan selalu ingat hal ini, kembali ke arena hidup, dan bersaing dengan keadaan.