Tuesday, June 8, 2010

Oh No, I'm Falling in Love With a Cave Guy !

Pria bisa diasosiasikan dengan manusia gua. Bingung dengan ungkapan ini? Namun inilah kenyataannya. Setiap pria di belahan dunia mana pun selalu mempunyai "gua"-nya masing-masing. Gua yang dimaksud adalah satu sisi kehidupan dimana hanya dia dan dirinya yang bisa masuki. Terdengar menyebalkan bukan? Kesannya eksklusif sekali memutuskan untuk sejenak meninggalkan orang-orang sekitarnya, termasuk pasangannya.
"Gua" para pria yang dimaksud bisa berupa kesukaan/hobby ataupun lokasi tertentu. Saat panggilan untuk menyepi di "gua"-nya, jangan harap mereka senang jika diganggu. Seakan para wanita harus menunggu dan merelakan kekasihnya bercengkrama dengan hal lain. Para pria bisa meninggalkan pasangan untuk meng-gua dalam hitungan waktu yang pendek seperti beberapa jam, atau bahkan bisa beberapa hari. Kegiatan ini memang dikhususkan untuk dilakukannya seorang diri (tanpa pasangan) dengan tujuan untuk menyegarkan pikiran dari kepenatan rutinitas atau masalah kehidupan.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan sebagian banyak wanita yang justru selalu ingin ditemani ketika ada permasalahan. Wanita mengharapakan hubungan intensif dengan pasangannya. Wanita beranggapan semakin dekat dan erat dengan pasangan, maka hubungan mereka harmonis. Dapat dibayangkan perbedaan bagai bumi dengan langit bukan?
Pria yang kucintai juga sama dengan pria lain yang mempunyai "gua", bahkan punya beberapa. Ia suka menghabiskan waktu untuk maen PS *sendiri*, menonton film seri *sendiri*, berolahraga *sendiri*, sampai dengan pergi dengan teman-temannya tanpa saya. Saat ia menghabiskan aktivitas di dalam "gua"-nya itu sering sekali dia menjadi tidak peka terhadap saya dan pada akhirnya saya ngambek karena tidak diperhatikan.
Yah, terkadang sulit bagi saya untuk menerima bahwa ada waktu dimana saya memang harus rela ditinggalkannya. Ia pergi sementara untuk menyenangkan dirinya dengan aktivitas yang bebas. Saya masih kurang rela dengan ungkapan Kahlil Gibran yang mengatakan,"Biarlah ada ruang di antara kebersamaanmu". Dengan begitu saya terstimulus untuk lebih cemas.
Ini adalah sebuah tantangan bagi saya untuk menjalani hubungan dengan si pria gua. Sabar dan belajar untuk memahaminya mungkin bisa jadi kunci untuk menyelesaikan masalah. Saya sadar betul kalau ini tidak mudah, tapi saya yang mencintainya mungkin akan belajar untuk mencoba dan berusaha. Harapan saya adalah jika ia kembali ke sisi saya, ia sudah membawa keceriaan, kehangatan, dan kebahagiaan baru yang dipersembahkannya untuk saya.


NB: ini kya na tulisan pertama gw yg begitu formal.. smoga kedepannya gw banyak nulis kya gini supaya bisa mengasah kemampuan gw menulis.. hahaha :D

No comments: