Friday, February 1, 2013

Keterbukaan

Pacaran itu hubungan yang rumit.
Pacaran itu seperti belajar terus-menerus tanpa henti.
Pacaran itu usaha dua individu.
Pacaran itu komunikasi dan keterbukaan dari dua anak manusia.

Yah, begitu seharusnya. Namun, keadaannya terkadang tidak se-ideal itu.

Pacaran hampir 5 tahun, belum memastikan bahwa kami 100% cocok. Tidak cukup memastikan bahwa hubungan pacaran kami akan berjalan lancar dan mulus. Ada saat dimana kami bertengkar dan memastikan ego masing-masing tetap tinggi.

Seperti, malam tadi...

Bedanya, ada sesuatu hal menarik yang menyentil dari pertengkaran tadi. Sehingga hal ini perlu ditulis, dibaca kembali, direnungkan, dan diingat.

Kami bertengkar karna kesalahpahaman. Kami masing-masing merasa pasangan kami sibuk dengan hal lain dan saling cuek. Keadaan tersebut padahal terjadi cuma sebentar, tapi dampaknya tidak sesebentar waktu yang kami habiskan untuk saling tidak memperhatikan. Saya merasa dia sibuk dengan kegiatan cuci-mencuci, beres-beres, dan mengecek komputernya. Ia merasa saya hanya peduli dengan foto-foto yang saya lihat di instagram. Pertengkaran dimulai ketika, saya bete dan memasang wajah (yang katanya) bete. Si pacar pun bertanya apakah ada hal yang tidak mengenakan bagi saya. Dan, seperti biasa saya akan jawab "Tidak ada apa-apa", tentunya dengan ketidakniatan saya menjawab. Ia pun mulai mendesak sampai ia marah. Ia merasa ia pun patut marah karna saya juga cuek, padahal ia sudah siap untuk ngobrol. Kami pun adu argumen, tapi saya tetap tidak mengatakan secara langsung "Iya, aku kesel karena kamu cuekin aku. Karena blablabla....". Ia pun amat sangat marah.

Singkat cerita, akhirnya kemarahan pun mereda. Kami mulai bicara dengan nada lebih biasa. Ia mengatakan ia marah karena saya begitu sulit mengatakan sumber kekesalan saya. Menurutnya saya boleh saja menyimpan kekesalan itu, tapi saya harus bersikap biasa seakan saya tidak kesal. Apabila saya ingin bersikap kesal, saya harus berani menyampaikan kekesalan saya beserta alasannya. Hei, buat saya itu tidak mudah. Entah ada apa dengan diri saya di masa kecil. Saya dibiasakan untuk tidak boleh kesal sama orang, terutama orang tua. Hal ini membuat saya kadang tidak bisa asertif mengatakan sesuatu hal yang saya tidak sukai.

Ada satu kalimat yang ia sampaikan hingga timbul perasaan tertohok dan tenang di saat bersamaan. Ia bilang, "Aku bukan orang tua kamu, aku bukan temen kamu, aku bukan orang lain, ini aku." Rasanya kalimat ini bisa diinterpretasikan seperti ia dan saya tidak lagi berbatasan. Kami harusnya bisa saling berbagi dan terbuka. Berbagi entah itu hal yang manis, maupun pahit. Terbuka walaupun itu menyenangkan, maupun hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Rasanya ingin berterima kasih padanya karena telah diingatkan suatu hal yang penting di dalam hubungan kami. Tapi mulut ini masih bungkam, rasanya kata-kata itu tidak keluar. Namun, sungguh dan tulus saya bersyukur tadi ia mengatakan hal itu.

Terima kasih, kekasih.