Friday, November 30, 2012

Ada untuk Menjadi Tiada & Tiada untuk Menjadi Ada

Orang berkata "Setiap ada perjumpaan, maka akan ada perpisahan",contohnya manusia mempunyai masa hidup dan suatu saat ia akan meninggal. Meninggal tanpa membawa apapun, selain doa dari orang-orang terkasih yang merasa sedih. Kenapa harus merasa sedih? Karena pada dasarnya perpisahan itu tidak mengenakan. Perpisahan membuahkan rasa takut, takut akan rasa ketidaklengkapan. Takut akan rasa kesepian. Takut akan rasa rindu yang menyiksa. Iyah, rasa takut. Manusia manapun tidak menyukai keadaan takut. Tidak terkecuali saya.
Rasa takut untuk berpisah-untuk-selamanya selalu menemani setiap waktu. Takut berpisah untuk selamanya dengan orang tua. Takut berpisah selamanya dengan keluarga. Takut berpisah untuk selamanya dengan sahabat. Takut berpisah selamanya dengan kekasih. Bahkan takut berpisah dengan hal-hal yang berkesan, hal-hal yang memberi memori yang manis, seperti suasana kelas, rumah yang nyaman, masa kanak-kanak yang tanpa beban, dan banyak lagi.
Saya lantas membiasakan diri untuk mengucapkan "sampai jumpa / see you" dibandingkan "selamat berpisah / goodbye". Alasannya karena saya takut salam perpisahan itu benar-benar menjadi salam perpisahan terakhir dan tidak akan ada perjumpaan lagi. Rasanya seperti melawan takdir atau rencana Tuhan, atau apapun juga itu. Rasanya ingin memberontak dari kenyataan bahwa akan adanya sebuah perpisahan.
Namun, pada akhirnya, cepat atau lambat, saya harus belajar menerima hal itu. Hal-hal mengenai perpisahan yang akan selalu ada ketika ada sebuah perjumpaan. Karena terkadang atau selalu perpisahan akan suatu hal atau tempat akan membuat, mendorong, dan memaksa kita beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu masa ke masa yang lain. Dari satu pendewasaan ke pendewasaan lainnya. Bisa dibilang perpisahan ada untuk membawa kita menuju ke perjumpaan lain yang penuh kebaikan. Begitu terus berulang hingga waktu hidup kita habis. Terkadang di saat berpisah dengan beberapa hal penting, akan ada perasaan seperti dirampok tanpa sisa. Di saat itu, semuanya habis, sebagai contoh kebangkrutan, kemiskinan, sakit, dll. Saat itu menjadi lebih sulit untuk percaya akan ada perjumpaan lainnya yang akan menggantikan segala kehilangan. Mungkin di saat itu pengharapan adalah satu-satunya obat yang paling ampuh. Berharap bahwa segala rasa porak-poranda akan usai, bahwa badai pun akan segera redam, bahwa setelah gelap akan kembali lagi ada terang.
Saya berharap, suatu saat nanti, ketika saya merasa hancur, gelap, dan tidak berdaya karena sebuah perpisahan, saya bisa membaca ini dan teringat bahwa saya tidak akan diam dan akan terus berjalan hingga pada akhirnya kembali bertemu dengan sang perjumpaan.